Detektor Non-Inverting dengan Vref=+
Dalam dunia elektronika, detektor non-inverting dengan Vref + adalah salah satu konfigurasi dasar dari op-amp yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan sinyal input dan menghasilkan output yang sebanding dengan amplitudo sinyal input, tanpa membalikkan polaritasnya. Dalam detektor non-inverting dengan Vref +, tegangan referensi positif (+) atau Vref + digunakan untuk membandingkan sinyal input. Vref+ merupakan tegangan referensi positif yang digunakan untuk menentukan level tegangan di mana detektor akan aktif. Ketika tegangan input melebihi Vref+, output dari detektor akan menjadi high. Ketika tegangan input di bawah Vref+, output dari detektor akan menjadi low.
·
Mampu
mengetahui rangkaian op-amp sebagai detektor non-inverting dengan Vref (+)
·
Mampu
mengetahui rangkaian op-amp sebagai detektor non-inverting Vref (+)
·
Mampu
membuat rangkaian simulasi dengan menerapkan konsep detektor non-inverting Vref
(+)
·
Mampu
memahami prinsip kerja dari rangkaian detektor non-inverting Vref (+), yang
dapat diterapkan dalam berbagai jenis rangkaian elektronik seperti sensor
A. Alat
1.
Instrumen
a.
DC Voltmeter
DC Voltmeter merupakan alat yang
digunakan untuk mengukur besar tengangan pada suatu komponen. Cara pemakaiannya
adalah dengan memparalelkan kaki2 Voltmeter dengan komponen yang akan diuji
tegangannya.
Berikut
adalah Spesifikasi dan keterangan Probe DC Volemeter
b.
Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur
elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk sinyal listrik. Osiloskop
dilengkapi dengan tabung sinar katode. Peranti pemancar elektron memproyeksikan
sorotan elektron ke layar tabung sinar katode.
2.
Generator
a.
Baterai
Spesifikasi:
·
Input
voltage: ac 100~240v / dc 10~30v
·
Output
voltage: dc 1~35v
·
Max.
Input current: dc 14a
·
Charging
current: 0.1~10a
·
Discharging
current: 0.1~1.0a
·
Balance
current: 1.5a/cell max
·
Max.
Discharging power: 15w
·
Max.
Charging power: ac 100w / dc 250w
·
Jenis
batre yg didukung: life, lilon, lipo 1~6s, lihv 1-6s, pb 1-12s, nimh, cd 1-16s
·
Ukuran:
126x115x49mm
·
Berat:
460gr
b.
Power Supply
Power
Supply atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Catu Daya adalah suatu alat
listrik yang dapat menyediakan energi listrik untuk perangkat listrik ataupun
elektronika lainnya.
c. Generator DC
Sebagai
generator DC fungsinya mengubah energi mekanik menjadi energi lisrtik.
3.
Bahan
a. Resistor
b.
Dioda
Spesifikasi
Untuk
menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik dari
arah sebaliknya. Oleh karena itu, Dioda sering dipergunakan sebagai penyearah
dalam Rangkaian Elektronika. Dioda pada umumnya mempunyai 2 Elektroda
(terminal) yaitu Anoda (+) dan Katoda (-) dan memiliki prinsip kerja yang
berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor yaitu dapat mengalirkan arus
dari sisi tipe-p (Anoda) menuju ke sisi tipe-n (Katoda) tetapi tidak dapat
mengalirkan arus ke arah sebaliknya.
c.
Transistor NPN
Transistor
merupakan salah satu Komponen Elektronika Aktif yang paling sering digunakan
dalam rangkaian Elektronika, baik rangkaian Elektronika yang paling sederhana
maupun rangkaian Elektronika yang rumit dan kompleks. Transistor pada umumnya
terbuat dari bahan semikonduktor seperti Germanium, Silikon, dan Gallium
Arsenide.
d.
Op-AMP
Konfigurasi
741
spesifikasi:
4. Komponen Input
a. Sound
Sensor
Sensor Suara adalah
sensor yang memiliki cara kerja merubah besaran suara menjadi besaran listrik.
Pada dasarnya prinsip kerja pada alat ini hampir mirip dengan cara kerja sensor
sentuh pada perangkat seperti telepon genggam, laptop, dan notebook. Sensor ini
bekerja berdasarkan besar kecilnya kekuatan gelombang suara yang mengenai
membran sensor yang menyebabkan bergeraknya membran sensor yang memiliki
kumparan kecil dibalik membran tersebut naik dan turun. Kecepatan gerak
kumparan tersebut menentukan kuat lemahnya gelombang listrik yang
dihasilkannya.
Pin
OUT
Spesifikasi
·
Working
voltage: DC 3.3-5V
·
Dimensions:
45 x 17 x 9 mm
·
Signal
output indication
·
Single
channel signal output
·
With
the retaining bolt hole, convenient installation
·
Outputs
low level and the signal light when there is sound
Grafik
Respons Sensor Sound
Sensor
suara merupakan module sensor yang mensensing besaran suara untuk diubah
menjadi besaran listrik yang akan dioleh mikrokontroler.
b.
Proximity Sensor
Pin
out
Proximity
sensor adalah alat pendeteksi yang bekerja berdasarkan jarak obyek terhadap
sensor. Karakteristik dari sensor ini adalah mendeteksi obyek benda dengan
jarak yang cukup dekat.
Spesifikasi:
Tegangan kerja antara 10-30 Vdc atau tegangan 100-200VAC
·
2
Cable
·
Ouput
: No
·
Sensing
: 10mm
·
Hysteresis
: Max 10% Of Sensing Distance
·
Standard
Sensing Target : Besi (Iron)45 X 45 X 1
·
Setting
Distance : 0 - 7mm
·
Responce
Frequency : 250hz
·
Residual
Voltage : Max 1.5v
·
Control
Output : Max 200ma
·
Operating
Indicator : Led (Red)
·
Protecion
: Ip67 (Iec Standards)
·
Materials
Case :
·
Heat
Resistant Abs, Standard Cable (Black), Polyvinyl Chloride (Pvc).
·
Dimensi
: 30 X 30 X 35.2mm
·
Panjang
Kabel : 2mtr
c.
Flame Sensor
Sensor api atau Flame
sensor merupakan salah satu alat pendeteksi kebakaran melalui adanya
nyala api yang tiba-tiba muncul. Besarnya nyala api yang terdeteksi adalah
nyala api dengan panjang gelombang 760 nm sampai dengan 1.100 nm.
Secara umum, prinsip kerja sensor
api cukup sederhana, yaitu memanfaatkan sistem kerja metode optik. Optik yang
mengandung ultraviolet, infrared, atau pencitraan visual api, dapat mendeteksi
adanya percikan api sebagai tanda awal kebakaran. Jika telah terjadi reaksi
percikan api yang cukup sering, maka akan terlihat emisi karbondioksida dan
radiasi dari infrared.
→ Spesifikasi
sensor api:
→ Pinout sensor api:
Grafik
respon sensor
d.
Touch Sensor
Touch sensor merupakan sebuah
monitor yang sensitif terhadap sentuhan dan tekanan (resistif), sehingga
perangkat ini memiliki dua fungsi yaitu, sebagai perangkat output
karena menampilkan informasi dan input karena menerima informasi.
Pin
Out
Spesifikasi
Grafik
Respon Sensor Touch
e. Logicstate
Gerbang Logika (Logic Gates) adalah
sebuah entitas untuk melakukan pengolahan input-input yang berupa bilangan
biner (hanya terdapat 2 kode bilangan biner yaitu, angka 1 dan 0) dengan
menggunakan Teori Matematika Boolean sehingga dihasilkan sebuah sinyal output
yang dapat digunakan untuk proses berikutnya.
Pin
out
5.
Komponen Output
a.
LED-RED
Spesifikasi:
Tegangan
LED menurut warna yang dihasilkan:
·
Infra
merah : 1,6 V.
·
Merah
: 1,8 V – 2,1 V.
·
Oranye
: 2,2 V.
·
Kuning
: 2,4 V.
·
Hijau
: 2,6 V.
·
Biru
: 3,0 V – 3,5 V.
·
Putih
: 3,0 – 3,6 V.
·
Ultraviolet
: 3,5 V.
Lampu LED atau
kepanjangannya Light Emitting Diode adalah suatu lampu indikator dalam
perangkat elektronika yang biasanya memiliki fungsi untuk menunjukkan
status dari perangkat elektronika tersebut.
b.
Relay
Spesifikasi
Konfigurasi pin
Relay merupakan
komponen listrik yang mempunyai 2 bagian yaitu, kumparan dan poin. Secara garis
besar relay berfungsi untuk mengendalikan dan mengalirkan listrik.
c.
Buzzer
Spesifikasi:
Buzzer adalah sebuah komponen
elektronika yang berfungsi untuk mengubah getaran listrik menjadi getaran suara
getaran listrik menjadi getaran suara. Buzzer biasa digunakan sebagai
indikator bahwa proses telah selesai atau terjadi suatu kesalahan pada sebuah
alat (alarm).
d.
Motor DC
Spesifikasi
Pin
out
Grafik
Respons:
Motor DC alat yang mengubah
energi listrik DC menjadi energi mekanik putaran. Sebuah motor
DC dapat difungsikan sebagai generator atau sebaliknya
generator DC dapat difungsikan sebagai motor DC.
e.
Ground
Ground pada
peralatan kelistrikan dan elektronika adalah memberikan perlindungan ke seluruh
sistem serta menetralisir cacat yang disebabkan daya yang kurang baik atau
kualitas komponen yang tidak standar.
A. Detector Non-Inverting dengan Vref (+)
Rangkaian
detektor non inverting dengan tegangan input Vi berupa gelombang segitiga dan
tegangan referensi Vref > 0 Volt adalah seperti gambar 78
Adapun
kurva karakteristik Input-Ouput (I-O) adalah seperti gambar 80. Dengan Vi >
0 maka Vo = +Vsat dan sebaliknya bila Vi < 0 maka Vo = -Vsat.
B.
Proximity Sensor
Sensor
proximity merupakan sensor atau saklar yang dapat mendeteksi adanya target
jenis logam dengan tanpa adanya kontak fisik.
Biasanya
sensor ini tediri dari alat elektronis solid-state yang terbungkus rapat untuk
melindungi dari pengaruh getaran, cairan, kimiawi, dan korosif yang berlebihan.
Sensor proximity dapat diaplikasikan pada kondisi penginderaan pada objek yang
dianggap terlalu kecil atau lunak untuk menggerakkan suatu mekanis saklar.
Proximity hanya mendeteksi "keberadaan" dan tidak memberi
"kuantitas" dari obyek. Maksudnya, jika mendeteksi logam maka
keluaran dari detektor hanya "ada" atau "tidak ada" logam.
Proximity tidak memberikan informasi tentang kuantitas logam seperti jenis
logam, ketebalan, jarak, suhu dan lain - lain. Jadi hanya "ada atau tidak
ada" logam. Juga sama untuk non logam. Proximity untuk logam biasanya
dengan "inductive proximity" sedang untuk non logam dengan
"capacitive proximity" Didepan disebutkan "perangkat"
karena sensor proximity sudah merupakan sirkuit yang terdiri dari beberapa
komponen untuk dirangkai menjadi sebuah sistem yang bekerja sebagai proximity
sensor.
C.
Sound Sensor
Sensor Suara adalah sensor
yang memiliki cara kerja merubah besaran suara menjadi besaran listrik. Pada
dasarnya prinsip kerja pada alat ini hampir mirip dengan cara kerja sensor
sentuh pada perangkat seperti telepon genggam, laptop, dan notebook. Sensor ini
bekerja berdasarkan besar kecilnya kekuatan gelombang suara yang mengenai
membran sensor yang menyebabkan bergeraknya membran sensor yang memiliki
kumparan kecil dibalik membran tersebut naik dan turun. Kecepatan gerak
kumparan tersebut menentukan kuat lemahnya gelombang listrik yang
dihasilkannya.
Salah satu komponen yang termasuk
dalam sensor ini adalah Microphone atau Mic. Mic adalah komponen eletronika
dimana cara kerjanya yaitu membran yang digetarkan oleh gelombang suara akan
menghasilkan sinyal listrik.
Mic
dapat diklarifikasikan menjadi beberapa jenis dasar antara lain; dinamis,
piezoelektrik, dan elektrostatik. Mic dinamis adalah contoh alat yang
memiliki sensor suara dengan peran yang besar dalam dunia industri
musik. Sedangkan untuk Mic piezoelektrik digunakan secara luas untuk mic dengan
meter rendah tingkat frekuensi suara. Untuk masalah pengukuran, mic
elektrostatik adalah yang paling populer karena mereka dapat dirampingkan,
memiliki ffrekuensi respon konsekuensi rata selama rentang frekuensi yang luas,
dan menyediakan nyata stabilitas yang tinggi dibandingkan dengan mic jenis
lain. Intensitas suara mic ini dirancang untuk menangkap intensitas suara
bersama dengan unit arah aliran sebagai besaran vektor. Bila dilihat dari
intensitas bunyi, mic dibagi menjadi dua jenis, yaitu arang dan capasitor.
Diperlukan
bebrapa komponen dalam pembuatan sensor suara. Komponen yang diperlukan sangat
mudah ditemukan dan memiliki harga yang terjangkau. Komponen-komponen yang
dibutuhkan antara lain; resistor memiliki dua saluran yang fungsinya untuk
menahan arus listrik dengan memproduksi penurunan tegangan diantara dua
salurannya sesuai dengan arus, kondensator, trimpot memiliki hambatan listrik
yang dapat diubah-diubah dengan cara memutar porosnya, dioda adalah bahan
semikonduktor yang dapat menghantar arus listrik pada satu arah saja, IC
(Intergrated Circuit) atau sirkuit, kondensator mic, LED untuk mengeluarkan
emisi cahaya, timah, solder, kabel secukupnya dan lain-lain.
D.
Flame Sensor
Flame sensor merupakan sensor yang
mempunyai fungsi sebagai pendeteksi nyala api dimana api memiliki panjang
gelombang antara 760nm-1100nm. sensor ini menggunakan infrared sebagai
tranduser dalam mensensing kondisi nyala api. Suhu normal pembacaan sensor
yaitu pada 25°-85°C dengan sudut pembacaan pada 60°.
Cara kerja flame
detector mampu bekerja dengan baik untuk menangkap nyala api untuk
mencegah kebakaran, yaitu dengan mengidentifikasi atau mendeteksi
nyala apiyang dideteksi oleh keberadaan spectrum cahaya infrared maupun
ultraviolet dengan menggunakan metode optic kemudian hasil pendeteksian itu
akan diteruskan ke Microprosessor yang ada pada unit flame
detector akan bekerja untuk membedakan spectrum cahaya yang terdapat pada
api yang terdeteksi tersebut dengan sistem delay selama 2-3 detik
pada detektor ini sehingga mampu mendeteksi sumber kebakaran lebih dini dan
memungkinkan tidak terjadi sumber alarm palsu.
Pada sensor ini menggunakan tranduser yang berupa infrared (IR) sebagai sensing
sensor. Tranduser ini digunakan untuk mendeteksi akan penyerapan cahaya
pada panjang gelombang tertentu, yang memungkinkan alat ini untuk membedakan
antara spectrum cahaya pada api dengan spectrum cahaya
lainnya seperti spectrum cahaya lampu, kilatan petir, welding arc, metal
grinding, hot turbine, reactor, dan masih banyak lagi.
Adapun spesifikasi dari flame detector ini adalah sebagai berikut:
·
Output= Digital (D0)
·
Working
voltage: 3.3V to 5V
·
Output
format: Digital output (HIGH/LOW)\
·
Wavelength
detection range: 760nm to 1100nm
·
Using
LM393 comparator
·
Detection
angle: About 60 degrees, particularly sensitive to the flame spectrum
·
Lighter
flame detect distance 80cm
·
The
comparator output, the signal is clean, great driving ability, more than 15Ma.
E. Touch
Sensor
Touch sensor merupakan sebuah
lapisan penerima input dari luar monitor. Input dari touchscreen adalah sebuah
sentuhan, maka dari itu sensornya juga merupakan sensor sentuh. Biasanya sensor
sentuh berupa sebuah panel terbuat dari kaca yang permukaannya sangat responsif
jika disentuh. Touch sensor ini diletakkan di permukaan paling depan dari
sebuah layar touchscreen, dengan demikian area responsif terhadap sentuhan
menutupi area pandang dari layar monitor. Maka dari itu ketika kita menyentuh
permukaan layar monitornya, inout juga telah diberikan oleh kita. Teknologi
touch sensor yang kini banyak digunakan terdiri dari tiga macam, seperti yang
telah dijelaskan di atas, yaitu Resistive touchscreen, Capasitive touchscreen,
dan Surface wace touchscreen. Semua jenis sensor ini memiliki cara kerja yang
sama, yaitu menangkap perubahan arus dan sinyal sinyal listrik yang ada pada
sensor tersebut, merekamnya dan mengubahnya menjadi titik-titik koordinat yang
berada di atas layar, sehingga posisi tepat dari sebuah sentuhan dapat langsung
diketahui dengan benar.
Cara
kerja :
Mengatahui
keberadaan dan lokasi suatu "sentuhan" di dalam area dengan membaca
titik-titik koordinat dari sumber sentuhan yang menempel pada layar dengan
menggunakan jari atau tangan. Teknologi ini juga bisa mengetahui sentuhan dari
objek pasif seperti stylus dan sejenisnya. Touch sensor merupakan sebuah
monitor yang sensitif terhadap sentuhan dan tekanan (resitif), sehingga
perangkat ini memiliki dua fungsi yaitu, sebagai perangkat output karena
menampilkan informasi dan input karena menerima informasi. Data yang dihasilkan
dari sentuhan ini tentunya adalah data mengenai posisi tangan kita yang
menyentuh sinyal ultrasonic tersebut. Jika ini dilakukan secara kontinyu dan
terdapat banyak sekali sensor gelomang ultarsonic pada media yang disentuhnya,
maka jadilah sebuah perangkat touch sensor yang dapat digunakan.
F.
Relay
Relay adalah Saklar (Switch) yang
dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen Electromechanical
(Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama yakni Elektromagnet (Coil)
dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay menggunakan Prinsip
Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga dengan arus listrik
yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan lebih
tinggi. Sebagai contoh, dengan Relay yang menggunakan Elektromagnet 5V dan 50
mA mampu menggerakan Armature Relay (yang berfungsi sebagai saklarnya) untuk
menghantarkan listrik 220V 2A.
Dibawah ini adalah gambar bentuk
Relay dan Simbol Relay yang sering ditemukan di Rangkaian Elektronika.
Prinsip
kerja Relay :
Pada
dasarnya, Relay terdiri dari 4 komponen dasar yaitu :
1.
Electromagnet
(Coil)
2.
Armature
3.
Switch
Contact Point (Saklar)
4.
Spring
Berikut
ini merupakan gambar dari bagian-bagian Relay:
Kontak Poin (Contact Point) Relay
terdiri dari 2 jenis yaitu :
·
Normally
Close (NC) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi
CLOSE (tertutup)
·
Normally
Open (NO) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi
OPEN (terbuka)
Berdasarkan gambar diatas, sebuah
Besi (Iron Core) yang dililit oleh sebuah kumparan Coil yang berfungsi untuk
mengendalikan Besi tersebut. Apabila Kumparan Coil diberikan arus listrik, maka
akan timbul gaya Elektromagnet yang kemudian menarik Armature untuk berpindah
dari Posisi sebelumnya (NC) ke posisi baru (NO) sehingga menjadi Saklar yang
dapat menghantarkan arus listrik di posisi barunya (NO). Posisi dimana Armature
tersebut berada sebelumnya (NC) akan menjadi OPEN atau tidak
terhubung. Pada saat tidak dialiri arus listrik, Armature akan kembali
lagi ke posisi Awal (NC). Coil yang digunakan oleh Relay untuk menarik
Contact Poin ke Posisi Close pada umumnya hanya membutuhkan arus listrik yang
relatif kecil.
G.
Op-Amp
Operasional amplifier (Op-Amp)
adalah suatu penguat berpenguatan tinggi yang terintegrasi dalam sebuah
chip IC yang memiliki dua input inverting dan non-inverting dengan sebuah
terminal output, dimana rangkaian umpan balik dapat ditambahkan untuk mengendalikan
karakteristik tanggapan keseluruhan pada operasional amplifier (Op-Amp). Pada
dasarnya operasional amplifier (Op-Amp) merupakan suatu penguat diferensial
yang memiliki 2 input dan 1 output. Op-amp ini digunakan untuk membentuk
fungsi-fungsi linier yang bermacam-mcam atau dapat juga digunakan untuk
operasi-operasi tak linier, dan seringkali disebut sebagai rangkaian terpadu
linier dasar. Penguat operasional (Op-Amp) merupakan komponen elektronika
analog yang berfungsi sebagai amplifier multiguna dalam bentuk IC dan memiliki
simbol sebagai berikut :
Simbol Operasional Amplifier (Op-Amp)
Prinsip kerja sebuah operasional
Amplifier (Op-Amp) adalah membandingkan nilai kedua input (input inverting dan
input non-inverting), apabila kedua input bernilai sama maka output Op-amp
tidak ada (nol) dan apabila terdapat perbedaan nilai input keduanya maka output
Op-amp akan memberikan tegangan output. Operasional amplifier (Op-Amp) dibuat
dari penguat diferensial dengan 2 input. Sebagai penguat operasional
ideal , operasional amplifier (Op-Amp) memiliki karakteristik sebagai berikut :
·
Impedansi
Input (Zi) besar = ∞
·
Impedansi
Output (Z0) kecil= 0
·
Penguatan
Tegangan (Av) tinggi = ∞
·
Band
Width respon frekuensi lebar = ∞
·
V0
= 0 apabila V1 = V2 dan tidak tergantung pada besarnya V1.
·
Karakteristik
operasional amplifier (Op-Amp) tidak tergantung temperatur / suhu.
Penguat operasional atau yang
dikenal sebagai Op-Amp merupakan suatu rangkaian terintegrasi atau IC yang
memiliki fungsi sebagai penguat sinyal, dengan beberapa konfigurasi. Secara
ideal Op-Amp memiliki impedansi masukan dan penguatan yang tak berhingga serta
impedansi keluaran sama dengan nol. Dalam prakteknya, Op-Amp memiliki impedansi
masukan dan penguatan yang besar serta impedansi keluaran yang kecil.
Op-Amp memiliki beberapa
karakteristik, diantaranya:
·
Penguat
tegangan tak berhingga (AV = ∼)
·
Impedansi
input tak berhingga (rin = ∼)
·
Impedansi
output nol (ro = 0) d. Bandwidth tak berhingga (BW = ∼)
·
Tegangan
offset nol pada tegangan input (Eo = 0 untuk Ein = 0)
Amplifier
Operasional:
Penguat
Pembalik:
Istilah
berikut digunakan dalam rumus dan persamaan untuk Penguatan Operasional.
·
R f =
Resistor umpan balik
·
R in =
Resistor Masukan
·
V in =
Tegangan masukan
·
V keluar =
Tegangan keluaran
·
Av =
Penguatan Tegangan
Penguatan
tegangan:
Gain
loop dekat dari penguat pembalik diberikan oleh:
Tegangan
Keluaran:
Tegangan
keluaran tidak sefasa dengan tegangan masukan sehingga dikenal
sebagai penguat pembalik .
Penguat
Penjumlahan:
Tegangan
Keluaran:
Output
umum dari rangkaian yang diberikan di atas adalah;
Jumlah
Tegangan Input Amplifikasi Terbalik:
jika
resistor inputnya sama, outputnya adalah jumlah tegangan input yang diskalakan
terbalik,
Jika
R1 = R2 = R3 =
Rn = R
Output
yang Dijumlahkan:
Ketika
semua resistor dalam rangkaian di atas sama, outputnya adalah jumlah terbalik
dari tegangan input.
Jika
Rf = R1 = R2 = R3 = Rn = R;
V keluar =
– (V 1 + V 2 + V 3 +… + V n)
Penguat
Non-Pembalik:
Istilah
yang digunakan untuk rumus dan persamaan Penguat Non-Pembalik.
·
R f =
Resistor umpan balik
·
R
= Resistor Tanah
·
V masuk =
Tegangan masukan
·
V keluar =
Tegangan keluaran
·
Av =
Penguatan Tegangan
Keuntungan
Penguat:
Gain
total penguat non-pembalik adalah:
Tegangan
Keluaran:
Tegangan
output penguat non-pembalik sefasa dengan tegangan inputnya dan diberikan oleh;
Unity
Gain Amplifier / Buffer / Pengikut Tegangan:
Jika
resistor umpan balik dilepas yaitu R f = 0, penguat
non-pembalik akan menjadi pengikut / penyangga tegangan
Penguat
Diferensial:
Istilah
yang digunakan untuk rumus Penguat Diferensial.
·
R f =
Resistor umpan balik
·
R a =
Resistor Input Pembalik
·
R b =
Resistor Input Non Pembalik
·
R g =
Resistor Ground Non Pembalik
·
V a =
Tegangan input pembalik
·
V b =
Tegangan Input Non Pembalik
·
V keluar =
Tegangan keluaran
·
Av =
Penguatan Tegangan
Keluaran
Umum:
tegangan
keluaran dari rangkaian yang diberikan di atas adalah;
Keluaran
Diferensial Berskala:
Jika
resistor Rf = Rg &
Ra = Rb, maka output akan diskalakan
perbedaan dari tegangan input;
Perbedaan
Penguatan Persatuan:
Jika
semua resistor yang digunakan dalam rangkaian adalah sama yaitu Ra = Rb =
Rf = Rg = R, penguat akan memberikan output yang merupakan selisih
tegangan input;
V keluar = Vb – Va
Penguat
Pembeda
Penguat
Operasional jenis ini memberikan tegangan output yang berbanding lurus dengan
perubahan tegangan input. Tegangan keluaran diberikan oleh;
Input
gelombang segitiga => Output gelombang persegi panjang
Input
gelombang sinus => Output gelombang kosinus
Penguat
Integrator
Penguat
ini memberikan tegangan keluaran yang merupakan bagian integral dari tegangan
masukan.
H.
Transistor
Transistor adalah sebuah komponen
di dalam elektronika yang diciptakan dari bahan-bahan semikonduktor dan
memiliki tiga buah kaki. Masing-masing kaki disebu sebagai basis, kolektor, dan
emitor.
·
Emitor
(E) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.
·
Kolektor
(C) berperan sebagai saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam
transistor.
·
Basis
(B) berguna untuk mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari
transistor melalui kolektor.
Fungsi dari transistor sendiri
adalah memperkuat arus listrik yang masuk ke dalam rangkaian. Fungsi ini
berkebalikan dengan resistor yang berperan meredam arus listrik.
Seperti yang telah disebutkan,
transistor terdiri dari dua jenis yaitu NPN dan PNP. NPN merupakan singkatan
dari Negatif Positif Negatif. Sedangkan PNP adalah kependekan dari Positif
Negatif Positif. Transistor NPN akan aktif ketika kaki basis diberi arus
listrik bermuatan negatif. Sebaliknya, transistor PNP akan aktif apabila kaki
basis mendapatkan tegangan listrik positif.
I.
Dioda
Dioada adalah komponen elektronika
yang terdiri dari dua kutub dan berfungsi menyearahkan arus. Komponen ini
terdiri dari penggabungan dua semikonduktor yang masing-masing diberi doping
(penambahan material) yang berbeda, dan tambahan material konduktor untuk
mengalirkan listrik.
Komponen Dioda :
Struktur utama dioda adalah dua
buah kutub elektroda berbahan konduktor yang masing-masing terhubung dengan
semikonduktor silikon jenis p dan silikon jenis n. Anoda adalah elektroda yang
terhubung dengan silikon jenis p dimana elektron yang terkandung lebih sedikit,
dan katoda adalah elektroda yang terhubung dengan silikon jenis n dimana
elektron yang terkandung lebih banyak. Pertemuan antara silikon n dan silikon p
akan membentuk suatu perbatasan yang disebut P-N Junction.
Cara Kerja Dioda:
Secara sederhana, cara kerja dioda dapat dijelaskan dalam tiga kondisi, yaitu kondisi tanpa tegangan (unbiased), diberikan tegangan positif (forward biased), dan tegangan negatif (reserve biased).
A.
Prosedur.
· Untuk membuat rangkaian ini,
pertama, siapkan semua alat dan bahan yang bersangkutan, di ambil dari library
proteus
· Letakkan semua alat dan bahan
sesuai dengan posisi dimana alat dan bahan terletak.
· Tepatkan posisi letak nya dengan
gambar rangkaian
· Selanjutnya, hubungkan semua alat
dan bahan menjadi suatu rangkaian yang utuh
· Lalu mencoba menjalankan rangkaian
, jika tidak terjadi error, maka motor akan bergerak yang berarti rangkaian
pada Detector Non-Inverting dengan Vref (+)
B. Rangkaian Simulasi dan Prinsip
Kerja
· Rangkaian Detektor
non-inverting dengan Vref = +
Gambar
Rangkaian :
Prinsip Kerja :
Rangkaian Detektor Non-Inverting
dengan Vref=+, Pada input inverting dipasang Tegangan 9 Volt dan Frekuensi 10
KHz, pada output diletakkan resistor dengan Resistansi 100 Ohm . Pada rangkaian
dipasang Power supply sebesar 12 Watt. Lalu disimulasikan dengan Oscilloscope,
pada Oscilloscope terlihat apabila input nya lebih besar dari Vref=+, maka
output nya positif (+) dan apabila inputnya lebih kecil dari Vref=+ maka
outputnya negatif (-)
Tampilan
pada osiloskop saat dijalankan:
· Aplikasi Penyelamatan Pesawat
Ketika Kecelakaan di Udara:
Prinsip
Kerja :
a.
Flame Sensor
Ketika flame sensor mendeteksi
adanya percikan api, maka akan menyebabkan buzzer berbunyi yang menandakan
adanya peringatan bahwa ada percikan api, sehingga flame sensor akan berlogika
1, sehingga didapatkan tegangan keluaran sensor sebesar +5V. Lalu, arus
mengalir masuk ke kaki non inverting OP AMP 741 disalurkan dengan tahanan yang
disesuaikan lanjut menuju kaki 6 OP AMP 741 dan menghasilkan tegangan output
sebesar 3.98V. Ini didapatkan dari rumus Vo=Aol (Vi-Vref). Dikarenakan Vsnya
sebesar 5V, maka tegangan outputnya hanya dapat terbaca <5. Lalu, arus
mengalir menuju R3, di sini dapat dilihat bahwa transistor sudah aktif karena
nilai Vbe>0,7 V, di sini dapat terbaca tegangan Vbe sebesar +0,85V. Lalu,
arus mengalir ke kaki base transistor menuju kaki emitor dan diteruskan ke
ground. Karena arus yang keluar di kaki transistor sudah cukup untuk
mengaktifkan transistor sehingga transistor aktif, sehingga arus mengalir dari
power supply (+5V) menuju relay RL 2, kemudian ke kaki kolektor menuju kaki emitor
dan diteruskan ke ground. Karena adanya arus yang melewati relay, maka switch
relay akan berpindah ke kiri, maka ada arus yang mengalir dari baterai menuju
buzzer sehingga buzzer akan berbunyi sebagai penanda bahwa adanya percikan api.
Selain itu, arus juga menuju R12 dan mengaktifkan LED merah sebagai indicator
bahwa adanya percikan api.
b.
Sound Sensor
Ketika sound sensor mendeteksi
adanya suara buzzer sebagai tanda bahwa adanya percikan api, maka didapatkan
keluaran yaitu motor akan berputar sebagai tanda bahwa kapsul pesawat terpisah
dari body pesawat, sehingga sound sensor akan berlogika 1,sehingga didapatkan
tegangan keluaran sensor sebesar +5 V, lalu arus mengalir masuk ke kaki non
inverting OP AMP 741 disalurkan dengan tahanan yang disesuaikan lanjut menuju
kaki 6 OP AMP 741 dan menghasilkan tegangan output sebes3.98V. Ini didapatkan
dari rumus Vo=Aol (Vi-Vref). Dikarenakan Vsnya sebesar 5V, maka tegangan
outputnya hanya dapat terbaca <5V. Lalu, arus menuju menuju R6. Disini dapat
dilihat bahwa transistor sudah aktif karena nilai Vbe>0,7 V. Tegangan Vbe di
sini dapat terbaca sebesar +0,85V. Lalu, arus mengalir menuju kaki base
transistor ke kaki emitor dan diteruskan ke ground. Karena arus yang keluar di
kaki transistor sudah cukup untuk mengaktifkan transistor sehingga transistor
aktif, sehingga arus mengalir dari power supply (+5V) menuju R4 lalu ke relay
RL 1, kemudian ke kaki kolektor menuju kaki emitor dan diteruskan ke ground.
Karena adanya arus yang melewati relay, maka switch relay akan berpindah ke
kanan, maka ada arus yang mengalir dari baterai menuju R13, sehingga motor akan
berputar menandakan bahwa kapsul terpisah dari body pesawat, serta LED merah
akan menyala sebagai indicator bahwa kapsul terpisah dari body pesawat.
c.
Touch Sensor
Namun, apabila terdapat kerusakan
pada motor sound sensor, maka bisa dilakukan secara manual dengan menekan touch
sensor untuk mengaktifkan motor sebagai pertanda bahwa kapsul pesawat terpisah
dari body pesawat, maka touch sensor akan berlogika 1, sehingga didapatkan
tegangan keluaran sensor sebesar +5V, lalu arus mengalir masuk ke kaki non
inverting OP AMP 741 disalurkan dengan tahanan yang disesuaikan lanjut menuju
kaki 6 OP AMP 741 dan menghasilkan tegangan output sebesar 3.98V. Ini
didapatkan dari rumus Vo=Aol (Vi-Vref). Dikarenakan Vsnya sebesar 12V, maka
tegangan outputnya hanya dapat terbaca <5V. Lalu, arus menuju R2. Disini
dapat dilihat bahwa transistor sudah aktif karena nilai Vbe>0,7 V. Tegangan
Vbe di sini dapat terbaca sebesar +0,85V. Lalu, arus mengalir menuju kaki base
transistor ke kaki emitor dan diteruskan ke ground. Karena arus yang keluar di
kaki transistor sudah cukup untuk mengaktifkan transistor sehingga transistor
aktif, sehingga arus mengalir dari power supply (+5V) menuju R18 lalu ke relay
RL 3, kemudian ke kaki kolektor menuju kaki emitor dan diteruskan ke ground.
Karena adanya arus yang melewati relay, maka switch relay akan berpindah ke
kiri, maka ada arus yang mengalir dari baterai menuju R17, sehingga motor akan
berputar menandakan bahwa kapsul terpisah dari body pesawat, serta LED merah
akan menyala sebagai indicator bahwa kapsul terpisah dari body pesawat.
d.
Infrared Sensor
Kemudian, pada ketinggian yang telah ditentukan, infraredsensor akan bekerja dan menghasilkan keluaran motor akan berputar sebagai pertanda bahwa parasut akan terbuka, sehingga didapatkan tegangan keluaran sensor sebesar 5V yang kemudian diteruskan ke kaki non inverting OP AMP 741 disalurkan dengan tahanan yang disesuaikan lanjut menuju kaki 6 OP AMP 741 dan didapatkan tegangan keluaran atau Vout sebesar 3.98 V. Ini didapatkan dari rumus Vo=Aol (Vi-Vref). Dikarenakan Vsnya sebesar 5V, maka tegangan outputnya hanya dapat terbaca <5V. Lalu arus mengalir menuju R8. Transistor di sini telah aktif karena ditandai dengan nilai Vbe>0,7 V. Di sini tegangan Vbe yang terbaca sebesar +0,85V. Lalu, arus mengalir ke kaki base transistor menuju kaki emitor dan diteruskan ke ground. Dikarenakan transistor sudah aktif, maka arus mengalir dari power supply (+5V) menuju R4 relay dan ke kaki kolektor lalu ke kaki emitor dan diteruskan ke ground.Karena adanya arus yang mengalir melewati relay maka switch relay akan berpindah ke kiri. Maka ada arus yang mengalir dari baterai menuju motor sehingga motor akan berputar ke kiri menandakan parasut akan terbuka.
- Rangkaian Detektor dengan Vref = +
- Aplikasi Penyelamatan Pesawat Ketika Kecelakaan Di Udara
· Rangkaian Aplikasi Penyelamatan Pesawat Ketika Kecelakaan di Udara [Klik Disini]
Rangkaian detektor non-inverting dengan VRef+ [Klik Disini]
Video detektor non-inverting dengan Vref+ [Klik Disini]
Video Aplikasi detektor non inverting dengan Vref+ [Klik Disini]
Download
Datasheet
·
Datasheet
resistor [klik
disini]
·
Datasheet
relay [klik
disini]
·
Datasheet
transistor [klik
disini]
·
Datasheet
DC motor [klik
disini]
·
Datasheet
voltmeter [klik
disini]
·
Datasheet
dioda [klik
disini]
·
Datasheet
op amp [klik
disini]
·
Datasheet
buzzer [klik
disini]
·
Datasheet
baterai [klik
disini]
·
Datasheet
osiloskop [klik
disini]
·
Datasheet
proximity sensor [klik
disini]
·
Datasheet
sound sensor [klik
disini]
·
Datasheet
flame sensor [klik
disini]
·
Datasheet
touch sensor [klik
disini]
·
File
library touch sensor [klik disini]
·
File
library flame sensor [klik disini]
·
File
library sound sensor [klik disini]
·
File
library proximity sensor [klik disini]
Komentar
Posting Komentar