chapter 10: Sub bab 10.5 Practical Op-Amp Circuits
Dalam dunia elektronika, pengolahan sinyal analog sering membutuhkan rangkaian yang mampu mengalikan suatu sinyal dengan konstanta tertentu secara presisi. Salah satu solusi yang banyak digunakan adalah inverting constant multiplier, yaitu rangkaian yang tidak hanya mengalikan sinyal input dengan suatu konstanta, tetapi juga membalik polaritasnya. Rangkaian ini umumnya memanfaatkan konfigurasi op-amp (operational amplifier) dengan susunan resistor tertentu pada terminal inverting, sehingga menghasilkan output yang proporsional terhadap input namun berlawanan fasa.
Penggunaan inverting constant multiplier sangat penting dalam berbagai aplikasi, seperti pengendalian arus konstan pada sistem penerangan bandara dan pengaturan sinyal dalam sistem kendali otomatis, karena kemampuannya menjaga kestabilan dan keakuratan penguatan sinyal. Sedangkan salah satu konfigurasi dasar op-amp yang banyak diaplikasikan adalah noninverting constant-gain multiplier atau penguat non-inverting dengan penguatan tetap. Rangkaian ini dirancang untuk menghasilkan sinyal keluaran yang diperkuat dan tetap sefasa dengan sinyal masukan, sehingga sangat ideal digunakan pada aplikasi yang membutuhkan penguatan sinyal tanpa perubahan polaritas. Penguat non-inverting memiliki keunggulan berupa impedansi masukan yang sangat tinggi dan impedansi keluaran yang rendah, sehingga sangat cocok digunakan sebagai buffer atau penyangga impedansi. Selain itu, besar penguatan (gain) pada rangkaian ini dapat diatur secara presisi menggunakan kombinasi resistor pada jalur umpan balik, sehingga menghasilkan penguatan tetap sesuai kebutuhan aplikasi. Unity follower, atau yang sering disebut sebagai voltage follower, merupakan salah satu konfigurasi dasar dari rangkaian operational amplifier (op-amp) yang memiliki penguatan tegangan sebesar satu (unity gain). Pada konfigurasi ini, output amp dihubungkan langsung ke input inverting (-), sementara sinyal input diberikan ke terminal non inverting (+). Dengan demikian, tegangan output akan sama dengan tegangan input, tanpa ada penguatan atau pelemahan sinyal.
- Menghasilkan penguatan sinyal
yang konstan dan presisi sesuai dengan nilai konstanta yang diinginkan.
- Membalik polaritas sinyal
input sehingga output memiliki fase yang berlawanan dengan input.
- Menerapkan prinsip kerja
op-amp dalam konfigurasi inverting untuk pengolahan sinyal analog.
- Mempermudah pengendalian dan
manipulasi sinyal dalam berbagai aplikasi elektronika, seperti sistem
kendali otomatis dan instrumentasi.
- Meningkatkan pemahaman tentang
karakteristik dan analisis rangkaian inverting constant multiplier.
- Mengaplikasikan rangkaian ini
dalam desain sistem elektronik yang memerlukan penguatan dan pembalikan
sinyal secara simultan.
1.
Alat
1).
Software Proteus (ISIS Professional)
Untuk
merancang dan menyimulasikan rangkaian elektronika.
2.
Bahan
1).
Voltmeter
Alat
ukur untuk mengukur besar Tegangan dalam satuan Volt
2).
DC Voltage
Komponen
yang menyediakan tegangan tetap antara dua terminal: terminal positif (+) dan
terminal negatif (–). Sumber ini digunakan untuk memberikan energi listrik ke
rangkaian, dan nilainya bisa berupa tegangan tetap (seperti baterai 5V atau
12V) atau variabel, tergantung konfigurasi rangkaian.
3).
Ground
Ground
adalah titik kembalinya arus searah atau titik kembalinya sinyal bolak balik
atau titik patokan dari berbagai titik tegangan dan sinyal listrik dalam
rangkaian elektronika.
4).
Resistor
Fungsi
utama dari resistor adalah membatasi aliran arus. Resistor dapat menahan
arus dan memperkecil besar arus. Besar resistansi (kemampuan menahan arus)
resistor disesuaikan dengan kebutuhan perangkat elektronika.
Cara
Menghitung Nilai Resistor
5).
Op Amp
Op-amp (operational amplifier) adalah komponen elektronik aktif yang berfungsi untuk memperkuat perbedaan tegangan antara dua inputnya (input inverting dan non-inverting).
1. Inverting Amplifier
Pengertian:
Inverting
amplifier adalah konfigurasi op-amp di mana sinyal input diberikan pada
terminal inverting (-), dan output op-amp diambil dari terminal output. Hasil
penguatan dari sinyal input berbalik fase (inverted) 180° dan diperkuat
tergantung pada rasio resistor feedback 180 der dan resistor input Rin.
Rumus
Penguatan (Gain):
A = -Rf/Rin
Dimana:
· A adalah penguatan op-amp (gain),
· Rf adalah resistor feedback,
· Rin adalah resistor input.
2.
Non-Inverting Amplifier
Pengertian:
Non-inverting
amplifier adalah konfigurasi di mana sinyal input diberikan pada terminal
non-inverting (+) dan outputnya diambil dari terminal output op-amp. Pada
konfigurasi ini, sinyal input tidak berbalik fase dengan output dan penguatan
bersifat positif.
Rumus
Penguatan (Gain):
A = 1 + Rf/Rin
Dimana:
· A adalah penguatan op-amp,
· Rf adalah resistor feedback,
·
Rin adalah resistor input.
3. Unity
Follower (Buffer)
Pengertian:
Unity
follower (juga dikenal sebagai buffer) adalah konfigurasi op-amp yang memiliki
penguatan satu kali (unity gain). Dalam konfigurasi ini, output op-amp
mengikuti input secara langsung, tanpa perubahan fase atau penguatan. Unity
follower digunakan untuk menyesuaikan impedansi antara dua rangkaian atau untuk
mengisolasi satu rangkaian dari yang lainnya.
Rumus
Penguatan (Gain):
A = 1
·
Op-amp
dalam konfigurasi ini akan menguatkan selisih tegangan antara input inverting
dan non-inverting. Karena terminal non-inverting biasanya dihubungkan ke
ground, maka tegangan input Vin hanya masuk pada terminal inverting.
·
Input
diberikan pada terminal non-inverting, dan op-amp akan menguatkan sinyal ini.
Feedback negatif digunakan untuk mengatur penguatan dan stabilitas op-amp.
·
Pada
unity follower, input dihubungkan ke terminal non-inverting, dan output
langsung diambil dari terminal output op-amp. Feedback negatif diterapkan
sehingga penguatan op-amp menjadi 1. Penguatan satu kali ini memastikan bahwa
tegangan output sama dengan tegangan input.
Rangkaian (Operational
Amplifier) merupakan salah satu komponen penting dalam elektronika analog
yang digunakan untuk penguatan sinyal. Tiga konfigurasi dasar yang umum
digunakan adalah inverting amplifier, non-inverting amplifier,
dan unity gain follower (buffer). Pada inverting amplifier,
sinyal input diberikan ke terminal inverting (-) melalui resistor input,
sementara terminal non-inverting (+) dihubungkan ke ground. Rangkaian ini
menghasilkan output yang berfasa terbalik terhadap input, dengan penguatan
(gain) yang dihitung sebagai -Rf/Rin, di mana Rf adalah resistor feedback. Konfigurasi ini cocok untuk
aplikasi yang membutuhkan pembalikan fasa dan penguatan yang dapat diatur
dengan rasio resistor.
Sementara itu, non-inverting
amplifier menerima sinyal input pada terminal non-inverting (+) dan
menghasilkan output yang sefasa dengan input. Gain pada konfigurasi ini adalah 1 + R2/R1, menjadikannya cocok untuk aplikasi penguatan
positif. Unity gain follower atau buffer adalah konfigurasi op-amp di
mana output langsung terhubung ke input inverting (-), sehingga menghasilkan
gain sebesar 1. Fungsi utamanya adalah untuk isolasi sinyal dan penyesuaian
impedansi, karena memiliki impedansi masukan tinggi dan impedansi keluaran
rendah. Ketiga konfigurasi ini sangat penting dalam perancangan rangkaian
analog seperti sensor, penguat audio, dan sistem kontrol
Soal 1: Inverting Amplifier
Sebuah rangkaian op-amp dihubungkan sebagai inverting amplifier dengan resistor feedback Rf=100 kΩ dan resistor input Rin = 10 kΩ Jika tegangan input Vin = 2 V , hitunglah tegangan output Vout
Jawaban:
Penguatan op-amp pada konfigurasi inverting amplifier:
A = -Rf/Rin = -(100 kΩ)/(10 kΩ) = -10
Maka, tegangan output:
Vout = A × Vin = -10 × 2 V = 20 V
Soal 2: Non-Inverting Amplifier
Rangkaian op-amp dikonfigurasi sebagai non-inverting amplifier dengan resistor feedback R_f=50 kΩ dan resistor input Rin=10 kΩ. Jika tegangan input Vin , hitunglah tegangan output Vout
Jawaban:
Penguatan op-amp pada konfigurasi non-inverting amplifier:
A = 1 + Rf/Rin = 1+(50 kΩ)/(10 kΩ) = 1+5 = 6
Maka, tegangan output:
Vout = A × Vin = 6 × 1 V = 6 V
Soal 3: Unity Follower (Buffer)
Sebuah op-amp dikonfigurasi sebagai unity follower (buffer). Jika tegangan input Vin=3 V, berapakah tegangan output Vout?
Jawaban:
Pada unity follower, penguatan adalah 1, sehingga:
Vout=Vin=3 V
Soal 1
– Inverting Amplifier
Sebuah inverting amplifier menggunakan resistor input Rin = 2 kΩ dan resistor feedback Rf = 8 kΩ. Berapa gain (penguatan) dari rangkaian tersebut?
A. -0.25
B. -4
C. 4
D. 0.25
Soal 2
– Non-Inverting Amplifier
Sebuah non-inverting amplifier memiliki R1 = 1 kΩ dan R2 = 9 kΩ. Berapa besar penguatan dari rangkaian tersebut?
(Gain = 1
+ R1/R2 = 1 + 9/1 = 10)
A. 1
B. 9
C. 10
D. 11
Soal 3
– Unity Gain Follower
Apa
karakteristik utama dari unity gain follower (buffer amplifier) menggunakan
op-amp?
A.
Membalik sinyal masukan dan memperbesar amplitudonya
B. Memberikan gain lebih dari 1
C. Menghasilkan output yang sama dengan input tanpa membalik fasa
D. Memperkuat sinyal dengan delay waktu
a)
Prosedur
Percobaan.
·
Untuk
membuat rangkaian ini, pertama, siapkan semua alat dan bahan yang bersangkutan,
di ambil dari library proteus
·
Letakkan
semua alat dan bahan sesuai dengan posisi dimana alat dan bahan terletak.
·
Tepatkan
posisi letak nya dengan gambar rangkaian
·
Selanjutnya,
hubungkan semua alat dan bahan menjadi suatu rangkaian yang utuh
·
Lalu
mencoba menjalankan rangkaian, jika tidak terjadi error, maka rangkaian akan
berfungsi yang berarti rangkaian bekerja.
b) Simulasi Rangkaian
- Rangkaian 10.34
- Rangkaian 10.35
- Rangkaian 10.36
-
Rangkaian 10.34 [klik disini]
- Video
Rangkaian 10.34 [klik disini]
-
Rangkaian 10.35 [klik disini]
- Video
Rangkaian 10.35 [klik disini]
-
Rangkaian 10.36 [klik disini]
- Video
Rangkaian 10.36 [klik disini]
Download Datasheet
-
Datasheet Resistor [klik disini]
-
Datasheeet Voltmeter [klik disini]
-
Datasheet Op Amp [klik disini]


Komentar
Posting Komentar